Trinitas: Tiga Cara Berada Allah

By

On September 4, 2018


TRINITAS: TIGA CARA BERADA ALLAH
Jhon P.E. Simorangkir




1. Pengantar
Ketika mempersiapkan tulisan ini, saya mengingat pengalaman-pengalaman membicarakan, mendiskusikan atau mengajarkan topik ini. Timbul kesan pada saya bahwa hampir semua orang percaya yang ada dalam percakapan itu merasakan bahwa ajaran Trinitas atau Allah Tritunggal ini adalah ajaran/doktrin gereja yang sangat sulit untuk dimengerti. Belum lagi membayangkan orang-orang dari agama lain yang ikut mempercakapkannya, yang tentu saja berangkat dari sikap tidak percaya atas doktrin kita ini. Dalam sebuah tulisannya, A.A. Yewangoe (pengajar di STT dan Ketua Umum PGI) mengatakan, tuduhan bahwa seolah-olah orang Kristen menyembah tiga ilah selalu muncul dalam berbagai percakapan. Yewangoe mengangkat cerita B.J. Boland (Boland a.l. menulis buku Intisari Iman Kristen, dan menyadur karangan G.C. van Niftrik, yang kita miliki di dalam bahasa Indonesia dengan judul Dogmatika Masakini; dua-duanya terbitan BPK Gunung Mulia). Suatu kali terjadi perdebatan antara seorang Kristen dan seorang Islam, dan yang Islam bertanya “Apakah orang-orang Kristen tidak mengabdi kepada tiga Tuhan, yang mereka namai Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus? Masa mereka mengabdi kepada tiga Tuhan, sambil mengatakan bahwa ketiganya cuma satu?” Lalu orang Kristen itu menjawab, “Tentu saya bersedia bercakap-cakap dengan saudara mengenai soal ini. Tetapi maaf saja kalau anak di kelas satu sekolah dasar menanyakan soal yang diajarkan di kelas enam, maka kita jawab: Tunggu saja dulu sampai kau sudah sampai di kelas paling atas! Bukan begitu?!”
Di dalam buku Pokok-Pokok Pemahaman Iman GKPI, yaitu buku konfessi Gereja GKPI – yang dimaksudkan dan diharapkan menjadi pegangan penjelasan iman di seluruh aras GKPI – tampaknya juga dihindari memakai kata Trinitas atau Tritunggal itu. Pada bagian tentang penjelasan Tuhan Allah, dokumen ini memilih menjelaskan Allah, sebagaimana kita kenal sebagai Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus, tanpa memasukkan penjelasan tentang doktrin Trinitas. Menurut sejumlah orang, dari semua doktrin Kristen, agaknya doktrin Allah Tritunggal memang menempati posisi tertinggi sebagai doktrin yang paling sukar untuk dimengerti. Bagaimana mungkin Allah yang esa dan tunggal (monoteisme) pada saat bersamaan diyakini sebagai tiga pribadi ilahi, tanpa terjerumus ke dalam keyakinan pada tiga Allah (triteisme)?


2. Satu Hakikat Tiga Pribadi
Rumusan tentang Trinitas dihasilkan para bapa gereja pada Konsili (sidang/sinode) Nicea tahun 325 dan Konsili Konstantinopel tahun 381. Latarbelakangnya dapat dikatakan adalah berkaitan dengan masuknya kekristenan ke lingkungan Yunani yang memperkembangkan filsafat, yang menekankan logika dan penalaran. Filsafat Yunani pada umumnya juga berpendapat bahwa hal rohani lebih tinggi dalam segala hal daripada yang jasmani. Di dalam Alkitab diberitakan tentang Allah Bapa dan Yesus Kristus. Menurut logika (Yunani) di antara tiga hal berikut ini, sukar dimengerti hubungannya secara logis, yaitu pemberitaan Alkitab tentang: a) Allah adalah esa/satu (Ulangan 6:4; Markus 12:29); b) bahwa dalam PB, Yesus Kristus tidak disamakan begitu saja dengan Allah Bapa (Lukas 23:46; 1 Korintus 15:28); c) Kristus adalah Tuhan (Yohanes 1:1; 20:28; 1 Korintus 12:3). Sehubungan dengan hal ini tampillah pemikiran-pemikiran yang berusaha menjawabnya. Justinus Martyr (mati syahid sekitar tahun 165) menjelaskan bahwa Yesus Kristus adalah Logos (Firman), yang menurut filsafat Yunani dipakai Allah sebagai pengantara untuk mengatur seluruh dunia. Dalam diri Yesus, Logos ilahi ini menjadi manusia. Walaupun Yesus dilihat sebagai lebih rendah dari Allah, keilahian Yesus dianggap terjamin sebab Logos berasal dari Allah. Karena keilahian Yesus sama dengan keilahian Allah, monotesime Kristen juga dianggap terjamin. Pemikiran ini menjadi pemikiran yang baku selama hampir dua abad. Origenes (±185-254), melanjutkan pemikiran Justinus Martyr, menekankan bahwa dari Allah Bapa mengalir secara abadi Logos, Anak Allah, yang menjelma menjadi manusia dalam Yesus Kristus. Anak Allah bukan Allah dalam arti penuh; Ia adalah Allah kedua, dengan keilahian yang sama dengan Allah Bapa, tetapi yang lebih rendah dari Bapa.
Kemudian tampillah Arius (336) mengajarkan bahwa hanya Allah Bapa saja yang boleh disebut Allah dan Logos (Kristus) dilihat sebagai ciptaan. Arius adalah seorang imam di kota Alexandria (Mesir). Menurutnya Kristus tidak berasal dari kekekalan, bukan ilahi, melainkan makhluk yaitu salah seorang malaikat yang tertinggi dan yang kemudian diangkat menjadi Anak Allah. Maksud Arius adalah untuk menjamin monoteisme Kristen; keesaan Allah.
Konsili Nicea (325) memutuskan bahwa Yesus Kristus, Allah Anak, adalah “sehahikat” (homo-ousios) atau “sama adanya” dengan Allah Bapa. Artinya Allah Bapa dan Anak mempunyai keilahian yang sama. Di dalam Pengakuan Iman Nicea, dikatakan bahwa Anak “diperanakkan, bukan dijadikan”; “Anak sehakikat dengan Bapa”; “Anak adalah Allah sejati dari Allah sejati” (lihat buku Van Den End, Harta dalam Bejana, hlm. 79). Dengan demikian menjadi jelas bahwa gereja menolak dengan tegas setiap pemikiran bahwa Kristus adalah ciptaan biasa. Penekanan atas keilahian Kristus di dalam perkembangan gereja mula-mula ini berkaitan erat dengan pemahaman orang-orang Kristen Yunani tentang keselamatan. Keselamatan bagi mereka berarti bahwa manusia dibebaskan dari kefanaannya dan dijadikan seperti Allah yaitu abadi, tidak fana. Perubahan ini dikerjakan Kristus, yang datang ke dunia untuk mengangkat manusia kepada Allah. Dan hal ini hanya bisa dikerjakan kalau sang Juruselamat itu ilahi.
Setelah Nicea, timbul juga kesadaran bahwa Roh Kudus, yang memainkan peranan besar dalam penyelamatan manusia, juga harus dilihat sebagai ilahi penuh, bukan ciptaan tertinggi. Roh Kudus adalah Tuhan, yang keilahianNya sama dengan Allah Bapa dan Anak. Hal ini diputuskan di dalam Konsili Konstantinopel (381). Dengan demikian selesailah dogma (ajaran resmi) tentang Trinitas. Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus mempunyai hakikat yang sama, yang dibedakan sebagai tiga pribadi ilahi atau tiga cara Allah yang esa berada.


3. Iman terhadap Allah yang Esa
Para Bapa Gereja sudah mulai mempergunakan kata Yunani homoousius (satu hakikat) dalam menjelaskan hakikat yang satu dari Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Demikian juga istilah Latin persona dan padanannya dalam bahasa Yunani prosopon serta istilah tambahan Yunani hypostasis, dipakai untuk mengidentifikasi ketigaan dalam Trinitas itu. Terjemahan Indonesia untuk persona adalah “pribadi”. Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus dikatakan adalah tiga hypostasis atau pribadi di dalam satu hakikat. Apakah yang dimaksud dengan hypostasis atau pribadi itu?
Tertulianus (lahir di Kartago, Tunis sekarang, tahun 160), seorang ahli hukum dan pemikir Kristen dari Afrika Utara, menciptakan istilah-istilah, yang dipergunakan kemudian oleh Bapa-bapa Gereja dalam perumusan doktrin Trinitas.
Sekitar tahun 200, dalam teologinya mengenai Allah, Tertulianus memakai kata “hakikat”. Artinya apa, pada zaman itu? Ini sangat penting. Kata “hakikat” menjawab pertanyaan “apa itu”? Beberapa hal yang berbeda-beda dapat mempunyai hakikat yang sama. Misalnya tiga meja: satu dari kayu, satu dari kaca, dan satu dari logam. Atas pertanyaan, apa itu?, dapat dijawab untuk ketiga-tiganya: itu meja! Maka hakikat meja dapat tampak dalam aneka bentuk, ada meja dari kayu, dari kaca, dan dari logam. Tetapi perbedaan bentuk tidak menyangkut yang pokok, yang hakiki. Yang hakiki adalah bahwa ketiga-tiganya adalah sebuah meja. Ketika Tertulianus menerapkan paham “hakikat” pada Allah maka yang dimaksudkannya dengan kata “hakikat” ialah apa yang membedakan Allah dengan segala yang lain, yaitu keilahian-Nya. Tetapi bagi orang Kristiani, dan juga bagi orang Yahudi, keilahian itu hanya ada satu kali saja. Maka dalam bahasa Tertulianus itu, Allah adalah satu hakikat. Namun menurut Perjanjian Baru, satu Allah itu berkarya dan menyatakan diri dengan tiga cara yang berbeda-beda. Ketiga cara itu tentu tak bisa disebut “hakikat”. Sebab satu Allah berarti satu hakikat. Maka untuk membedakan ketiga cara itu, Tertulianus memakai kata “persona”. Di Afrika Utara, Tertulianus, sebagai ahli moral, banyak memperhatikan teater di Kartago (sekarang Tunisia). Karena itu tahu kata “persona” dan “prosopon” adalah sebutan untuk topeng, yang dipakai para pemain teater supaya para penonton tahu peran mana yang mereka mainkan. Biarpun topeng itu berbeda-beda, pemainnya tetap sama. Ketika Tertulianus menerapkan kata “hakikat” dan “persona” itu pada Allah, ia berbicara mengenai satu hakikat, tiga persona. Sementara pengertian modern untuk kata persona atau pribadi bukan lagi topeng melainkan pribadi yang punya kesadaran diri dan keputusan bebas. Ketika Tertulianus memakai kata persona atau pribadi untuk menjelaskan Trinitas, ia tidak memahami arti kata itu seperti dalam arti modern sekarang
Menurut Karl Rahner (1904-1984), seorang teolog Katolik, teolog besar abad ke- 20, anggota-anggota Trinitas itu memang harus dibedakan dalam pengertian urutan kehadiran dalam waktu, dan berbagai kegiatan mereka dalam hubungan dengan dunia, tetapi sementara itu mereka berbagai satu kesatuan dalam substratum. Menurut Rahner, Konsili Nicea sepenuhnya sesuai dengan kesaksian Alkitab. Dan pada zaman Bapa Gereja dahulu, paham persona dan hypostasis tidak berarti kesadaran diri dan penentuan diri sendiri. Maka mengartikan kata pribadi dalam dogma satu hakikat tiga pribadi bisa diartikan keliru kalau kata “pribadi” di situ diartikan secara modern. Karl Barth (1886-1969), teolog besar Protestan lebih suka berbicara tentang Trinitas sebagai satu Allah dalam tiga cara berada yang berbeda-beda. Karl Rahner merumuskan – sejalan dengan pemikiran Konsili Nicea-Konstantinopel – Allah yang satu dan Tritunggal itu sebagai berikut:

Dalam sejarah wahyu dan keselamatan orang beriman berhadapan dengan misteri tak-terucapkan dari Allah yang tak terjangkau, tanpa asal, yang disebut Bapa;
Bapa itu tidak tinggal dalam kejauhan metafisis, tetapi dengan tetap mempertahankan sifat tak-terpahami dan berdaulat serta bebas-merdeka Ia mau memberikan diri kepada makhluk ciptaan-Nya sebagai hidup abadi dalam kebenaran dan kasih, atau dengan penggunaan perkataan lain: sebagai Firman dan Roh.
Allah yang satu dan tak-terpahami ini dengan cara yang tak dapat dibatalkan lagi secara historis menjadi dekat dengan manusia dalam diri Yesus Kristus, yang bukan seorang nabi dalam rentetan nabi yang selalu dapat ditambah lagi, melainkan adalah penawaran diri Allah yang defenitif dan tak terbatalkan dalam sejarah.
Dan Allah yang satu dan sama itu memberikan diri kepada manusia sebagai Roh Kudus dalam pusat terdalam kehidupan manusia untuk keselamatan dan pemenuhan, yang adalah Allah sendiri.
Maka untuk iman Kristiani ada dua data radikal yang tak dapat diatasi, cara berada dari satu Allah di dunia, yang merupakan keselamatan dunia yang dengan bebas dijamin oleh Allah, dalam sejarah dan transendensi, atau dalam Firman dan Roh, atau dalam kebenaran dan kasih.


4. Mengalami Allah: Pengalaman atas yang Ilahi

Istilah “trinitas” itu sendiri memang tidak kita temukan di dalam Alkitab. Yang ada adalah petunjuk kepada ajaran tentang Allah tritunggal itu. Misalnya dalam kata “kita” dalam Kejadian 1:26; dalam berkat “Imam Besar” kata Tuhan diulangi tiga kali (Bilangan 6:24-26), pembayangan Tritunggal Mahakudus mungkin sudah terlihat dalam Perjanjian Lama. Petunjuk-petunjuk yang jauh lebih jelas terdapat dalam Perjanjian Baru: dalam kisah pewartaan kelahiran Yesus (Lukas 1:26-28); pembabtisan Yesus (Matius 3:13-17; Markus 1:9-11; Lukas 3:21-22; Yohanes 1:29-34); dan perkataan Yesus dalam Perjamuan Terakhir (Yohanes 13:31 – 17:26); dalam amanat Yesus kepada murid-muridNya untuk membaptisakan semua orang (Matius 28:19); dan dalam salam Paulus (2 Korintus 13:13).
Dari paparan yang sangat ringkas di atas (dalam poin 2 dan 3), kita dapat katakan bahwa doktrin Trinitas merupakan pergumulan gereja untuk menghadapi pemikiran-pemikiran yang mau menempatkan Yesus Kristus sebagai bukan Tuhan sepenuhnya, yang menjadi manusia. Tentu ada alasan-alasan yang melatarbelakanginya yang bisa kita perhatikan dan nilai. Misalnya bahwa tujuan menempatkan Yesus sebagai “Allah yang lebih rendah” atau bahkan menolak Yesus sebagai ilahi adalah karena ingin mempertahankan dan menjamin keesaan Allah. Atau karena memang 3 pribadi itu menimbulkan kesulitan bagi cara berpikir yang logis (bagaimana 3 tapi 1?).
Oleh karena itu menurut saya:
• Kita perlu lebih berusaha memahami perumusuan para Bapa Gereja kita itu dengan secermat-cermatnya seperti diusulkan oleh Rahner (misalnya memperhatikan kembali bahwa kata “persona” bukan dalam arti pribadi dalam pengertian modern sekarang), sehingga ajaran “Satu Hakikat Tiga Pribadi” tidak membawa kesadaran kepada tiga Pribadi Allah seperti dalam arti modern (yang akhirnya menyulitkan karena sulit lepas dari pengertian tiga Allah), melainkan Satu Allah yang menjumpai kita dengan tiga cara.
• Sejalan dengan pendapat A.A. Yewangoe, marilah kita memandang ajaran Trinitas ini atau tentang Allah itu bukan hanya sebagai sesuatu yang dipikirkan melainkan sebagai sesuatu yang dialami. Bukanlah semata-mata bertanya apa yang kita pikirkan mengenai Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan bagaimana relasi ketiga pribadi itu, melainkan bagaimana kita mengalami Allah sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari.
• Pengalaman atas Trinitas di mana Allah memperkenalkan diri sebagai Allah di atas kita, Allah Bapa, Pencipta dan Pemelihara; sebagai Allah di antara kita, Allah Anak, Penyelamat/Penebus; dan sebagai Allah di dalam kita, Allah Roh Kudus, Penguat/Penolong, mengingatkan kita atas Allah yang menyatakan diriNya. Dalam diri Yesus, kita berjumpa dengan Allah yang memperhatikan dan mengasihi kita; memperhatikan orang-orang lemah dan miskin dan yang tersesat. Dalam Roh Kudus, Allah adalah Allah yang mengubah dan menggerakkan kita kepada hidup yang mengasihi Allah dan sesama.
• Makin pentinglah kita mengemukakan pengalaman kita tentang Allah, bukan sekadar fasih menerangkan ajaran tentang Allah. Di dalam Alkitab kita berjumpa dengan kisah tentang Allah yang terus bertindak itu. Orang Kristen perdana menyaksikan bahwa di dalam Yesus Kristus mereka berjumpa dengan Allah sendiri, yang mengampuni dan menyelamatkan manusia. Orang-orang percaya (pribadi atau jemaat) memperlihatkan pengalaman mereka tentang Allah yang hadir dan bertindak melalui Roh Kudus; yang menguatkan, membaharui, mempersatukan dan meneguhkan mereka (Rm. 8:2; 2Kor. 3:17; Kis. 1:8dyb.).

Itulah sebenarnya yang telah kita segarkan kembali di sini. Bahwa kita mengimani Allah yang esa (satu). Tetapi Allah yang esa itu telah menjumpai kita dan memperkenalkan diri kepada kita dengan tiga cara. Bahwa di dalam Yesus Kristus, kita berjumpa dengan Allah; di dalam diri Kristus, Allah berjumpa dengan manusia untuk menyelamatkannya. Trinitas adalah doktrin tentang Allah yang esa, yang memperkenalkan diri di dalam tiga cara berada yang berbeda-beda.


Pdt. Jhon P.E. Simorangkir, M.Th
[Pendeta GKPI Resort Parbubu Dolok, Wilayah Silindung]

Bacaan
De Jonge, Christiaan. Gereja Mencari Jawab: Kapita Selekta Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung
End, Th. van den. Harta dalam Bejana. Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.
GKPI. Pokok-Pokok Pemahaman Iman GKPI. Pematangsiantar: Kolportase Pusat GKPI, 1993.
Penuntun. Vol 6 no. 21 Tahun 2005.
Tanner. Norman P. Konsili-Konsili Gereja: Sejarah Ringkas. Yogyakarta: Kanisius, 2003.
Urban, Linwood. Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.
Vorgrimler, Herbert. Trinitas: Bapa, Firman, Roh Kudus. Yogyakarta: Kanisius, 2005.

File berkas : Jhon Simorangkir. TRINITAS. Tiga Cara Berada Allah
TAG :

Comments (0)

Silahkan Login untuk komentar